Thursday, January 19, 2012

FOOD #1 : Spicy Calamari

Spicy Calamari
Setelah sekian lama akhirnya membuka blog dan menulis kembali. Sedikit sharing tentang menu makanan yang bisa kalian coba di rumah, mudah dan bahannya pasti ada.

Bahan : Cumi-cumi segar, jeruk nipis, garam, bawang putih, kecap manis, saus sambal, saus tomat, dan merica

Cara buatnya juga mudah :
1. Lumuri cumi-cumi dengan jeruk nipis dan garam, didiamkan
2. Goreng setengah matang dahulu cumi-cumi, lalu tiriskan
3. Tumis bawang putih hingga harum, lalu masukkan cumi-cumi
4. Masukkan saus tomat, saus sambal, kecap manis, garam dan merica secukupnya
5. Berikan air sedikit, tunggu hingga air mulai meresap
6. Setelah matang lalu hidangkan.

Untuk berapa banyak bisa dikira-kira, karena saya belum ahli dengan takaran, lebih banyak menggunakan perkiraan, dan jangan takut untuk memasukkan bumbu. belajar bisa saja salah kan? Masak sebenanrnya bukan pengalaman yang pertama buat saya, selama hidup mandiri semasa sekolah saya lebih sering memasak kalau sedang bosan dengan makanan sekitar. Lagipula lebih bersih dan terjamin.
Spicy Calamari ini saya ambil dari salah satu buku resep makanan yang ibu saya punya, beruntung punya ibu yang suka mengumpulkan berbagai resep makanan jadi bisa coba-coba deh..Next menu nanti bakal saya post lagi di blog, yang gampang dulu kali yaa.. :)

Sunday, May 8, 2011

Friends of Mine NOW

Pagi ini disambut dengan matahari pagi yang memunculkan cahayanya diantara korden kamar saya, dengan kaget saya pun terbangun. Hal yang pertama kali saya lakukan saat bangun pagi adalah melihat Handphone dan menyalakan TV dengan berbagai tayangan infotainment. Ritual kamar mandi pun saya lakukan, setelahnya saya duduk terdiam mencari HP dan ternyata ada Blackberry Messenger (BBM) yang dikirim ibu kemarin, tapi saya hanya membaca sekilas karena sedang menyetir menuju kampus.
Ibu : "Halo sayang sedang apa? Hari ini mama gak masuk kantor karena males dan cape"

Jangan heran kalau ibu saya memang sering memangil dengan kata "sayang", itu salah satu ungkapan perasaan yang dia miliki. Curhat? ya, saya termasuk anak yang paling sering curhat dengan ibu, cerita banyak hal tentang kehidupan sehari-hari dan ibu saya juga orang yang selalu menceritakan segala sesuatu yang dilakukan baik itu via SMS, BBM atau telepon. Kalau bisa dibilang orang yang paling dekat dengan saya saat ini hanya ibu saya, walaupun kami hanya bisa berkomunikasi via teknologi canggih. Sekitar 2-3 bulan saya belum pulang kerumah, karena keputusan saya sendiri, tapi ibu dan ayah sudah bolak-balik Jakarta-Yogyakarta-Solo-Jakarta bukan hanya karena pekerjaan kantor tetapi karena keinginan mereka untuk bertemu saya. Terharu. Melihat anaknya yang tinggal sendiri di Yogyakarta yang kata banyak orang kota yang mempunyai banyak kenangan, Ibu selalu mengirimkan saya berbagai teman untuk menemani saya, jika saya sedang sibuk dan tidak sempat untuk pergi kemana-mana. Mari saya perkenalkan teman- teman saya,


Arabian Chocolate - Dikirim Ibu, setelah kepulangan Umroh.

Japan's Chocolate - saya beli sendiri waktu di Jepang, tapi di kirim Ibu saat saya bilang saya pengen coklat yang ada di rumah.

NB : Sedang Berpikir, apa lagi yang akan dikirim Ibu ke sini.

Tuesday, March 29, 2011

Belajar Dari Jepang

Setelah kejadian gempa dan tsunami yang melanda Jepang beberapa minggu yang lalu. Benar-benar mengingatkan saya sewaktu punya kesempatan untuk mengunjungi Jepang di tahun 2010. Sangat sedih melihat beberapa tempat yang saya kunjungi waktu itu turut terkena dampaknya. Tapi saya sangat terkesan sekali sewaktu melihat mereka benar-benar negara yang sudah siap dengan kejadian tersebut. Banyak saya dengar dan baca bahwa masyarakat Jepang sudah sangat sering melakukan latihan rutin untuk menghadapi bencana seperti itu. Seperti yang kita lihat di TV, mereka sangat tegar dan tetap menjalankan aktivitasnya dengan membantu para masyarakat lain yang masih memerlukan bantuan.

Banyak hal yang perlu kita pelajari dari Negri Sakura itu, 1 hal yang paling saya ingat sewaktu saya disan dan melihat masyarakat jepang. Mereka sangat suka sekali membaca, baik itu di Kereta atau sekedar di jalan sewaktu menunggu. Walaupun apa yang dibaca mereka bukan bacaan berat tapi mereka terbiasa dengan membaca. Mungkin itu yang membuat orang dan masyarakat di sana menjadi masayarakat yang pintar dan jenius. Sedih rasanya saat melihat kondisi itu, karena banyak sekali terkadang kita sebagai masyarakat Indonesia yang merupakan negara besar sangat jarang sekali mempergunakan waktu untuk membaca. Apalagi kalau melihat banyak adik-adik kita di pelosok Indonesia yang sangat ingin menimba ilmu tetapi tidak mempunyai biaya, padahal dengan kita bisa menyumbang buku untuk mereka, mereka dapat menimba ilmu walaupun hanya dengan membaca buku.

Waktu kecil saya termasuk anak yang paling suka diajak ke Toko buku, dan buku yang paling sering dibelikan oleh ibu saya adalah buku cerita rakya dengan beberapa cerita yang berasal dari beberapa daerah dari Indonesia. Ibu saya dan ayah saya termasuk orang yang paling mendukung sekali hobi membaca saya sewaktu kecil. Sampai-sampai setiap Ibu pulang dari kantor selalu membelikan saya buku cerita yang menarik dengan bahasa inggris yang beliau beli di kantor. Kalau diingat-ingat lucu juga hobi saya yang satu itu. Sampai pada saat SMP-SMA saya sangat sering membeli buku, tapi ibu selalu membatasi karena jika tidak bisa-bisa saya tidak belajar karena saat itu saya mulai hobi membaca novel. Akhirnya saya membeli buku setiap akhir pekan atau saat libur sekolah. Ada hal yang paling lucu tentang hobi membaca buku saya, Ibu sempat bingung pada saat liburan sekolah saya tidak diajak pergi karena kesibukan yang akhirnya selama 2 minggu harus berdiam di rumah, akhirnya Ibu mengajak saya ke toko buku dan saya membeli beberapa buku sekitar 2-3 Novel lumayan tebal. Tidak lebih dari seminggu buku itu habis saya baca dan Ibu saya malah bingung karena saya mulai bosan di rumah.

Bercita-cita boleh kan ? saya ingin sekali bisa membuka tempat les bahasa inggris gratis untuk anak-anak kurang mampu dan membuka perpustakaan gratis. Sempat berbicara dengan Ayah, tapi hanya menjadi pembicaraan kami berdua saja. Semoga saja suatu hari nanti cita-cita saya bisa terkabul. amin.

Dibawah ini bisa dilihat beberapa foto sewaktu di Jepang 2010 saya melakukan short trip dengan Annisia Dwi Baehaki.



Harajuku

Sedikit lupa ini dimana antara Shibuya atau Shinjuku


Tokyo Tower




Akihabara

Wednesday, February 23, 2011

Another Family

Kemarin saya datang keacara wisuda teman kos (Mbak Caca dan Mbak via) bersama dengan Emil, karena sebagian banyak anak-anak kosan tidak bisa datang. Sedikit membingungkan karena saya dan Emil mempunyai kepentingan di kampus masing-masing, tapi dengan berbagai pertimbangan kami berdua tetap memutuskan untuk datang ke acara wisuda mereka berdua.

Ramai. Yup karena ini wisuda dua periode jadi banyak sekali oarang diaman-mana yang membuat saya dan emil menjadi kebingungan saat mencari Mbak Caca dan Mbak Vina. Sedikit lega sewaktu bisa bertemu dengan Mbak Caca, tapi kita bingung dimana Mbak Vina. Saya dan Emil sudah siap dengan seikat bunga yang kita siapkan sebelum bertemu (beli di GSP juga sih) karena tidak ada waktu lagi. Faktanya, ternyata kalau wisuda itu yang datang bukan hanya kedua orang tua, tapi seperangkat keluarga besar yang membuat jadi keadaan berubah menjadi sangat ramai. Mungkin karena bangga dan bahagianya keluarga besar hingga membuat mereka semua datang ke acara tersebut.

Terharu. Waktu akhirnya bisa bertemu dengan Mbak Caca dan Mbak vina, perasaan sedih, senang, bangga, atau pun bahagia bercampur menjadi satu. Semua itu karena saya sendiri sudah tinggal bersama mereka hampir 3 tahun, senang - sedih bersama, apapun yang sedang mereka kerjakan dan lakuin dan setelah itu kita harus pisah. Selain itu, sedih banget melihat beberapa temen yang juga udah lulus, dan mulai berpikir kapan saya akan lulus. Ada beberapa hal yang membuat saya terharu selain meliah teman-teman saya. Melihat keluarga dan orang tua para wisudawan dan wisudawati yang mengantarkan, sungguh sangat bangga melihat anak-anak mereka sudah menjadi sarjana yang menjadi cita-cita semua orang tua di dunia ini. Ada juga melihat para wisudawan atau wisudawati yang harus berangkat naik motor dengan keluarganya, atau naik bis membandingkannya dengan yang diantar dengan mobil mewah dan tidak merasakan panasnya terik dan baju toga itu. Jujur saat itu juga saya sedih dan sempat berpikir apa yang ada di hati mereka, hanya suatu kebahagiaan yang tidak terkira.

Memang setiap ada yang pertemuan pasti ada perpisahaan, tapi semoga perpisahan itu bukan sebagai suatu ajang menjadi semakin jauh. Semua itu terbukti dari tempat kos saya, walaupun sudah bergonta-ganti penghuni tetapi kami sebagai para penghuni tetap saling menghormati dan sering sekali bertemu. Kalau sudah saling berkumpul satu sama lain, benar-benar tidak berubah yang namanya teriak-teriak, saling ejek, atau tertawa bersama suansana tetap menyenangkan.

Photobucket

Photobucket

Photobucket